From now on we Elev8
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
Rupiah melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Rabu awal sesi Eropa, dengan kurs mata uang Garuda ini tertekan ke 17.166 per Dolar AS atau sekitar 0,46% menjelang pengumuman keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Pergerakan ini menempatkan Rupiah dekat area terlemah rentang hariannya di 17.117-17.182, sekaligus menjaga tekanan depresiasi di kisaran zona psikologis 17.100-17.200. Kecenderungan pelemahan Rupiah juga masih terlihat karena USD/IDR telah melampaui tertinggi sesi sebelumnya di 17.155 dan bergerak dekat puncak rentang 52 minggu di 17.195, menandakan ruang pelemahan masih terbuka selama kurs belum menjauh secara meyakinkan dari area atas tersebut.
Fokus pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga BI, dengan mayoritas analis memprakirakan bank sentral akan mempertahankan BI-Rate di 4,75%. Sikap ini dinilai sejalan dengan upaya menjaga stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian global, tekanan eksternal dari penguatan dolar AS, serta kehati-hatian terhadap prospek inflasi domestik.
Dari sisi eksternal, sentimen terhadap Rupiah masih dibayangi perkembangan AS-Iran yang belum sepenuhnya stabil. Washington memang memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil menunggu proposal dari Teheran, tetapi blokade terhadap pelabuhan Iran tetap dipertahankan, sementara insiden penembakan kapal kontainer di Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko di jalur energi global belum mereda. Kondisi ini membuat pasar belum sepenuhnya yakin bahwa tensi geopolitik benar-benar mereda, sehingga Dolar AS tetap mendapat dukungan. Indeks Dolar AS (DXY) bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepekan di 98,56 kemarin, sementara harga minyak yang masih tinggi ikut menjaga tekanan pada mata uang negara pengimpor energi seperti Rupiah.
Bagi Rupiah, situasi tersebut memang memberi sedikit ruang bernapas dibanding fase eskalasi penuh, tetapi belum cukup untuk membalikkan arah secara meyakinkan. Selama ketidakpastian geopolitik masih bertahan, harga minyak tetap tinggi, dan dolar terus ditopang sentimen hati-hati, Rupiah cenderung tetap rentan terhadap tekanan lanjutan.
Data AS semalam menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat. Penjualan ritel Maret naik 1,7% secara bulanan, di atas konsensus 1,4% dan jauh lebih tinggi dari 0,7% sebelumnya, sementara grup kontrol penjualan ritel tumbuh 0,7%, melampaui prakiraan 0,2%. Penjualan ritel non-otomotif juga naik 1,9%, lebih kuat dari estimasi 1,4%. Di sisi lain, penjualan rumah tertunda meningkat 1,5%, jauh di atas prakiraan 0,1%, meski laju rata-rata empat minggu tenaga kerja versi ADP tercatat 54,8 ribu, naik dari 39 ribu sebelumnya. Secara umum, rangkaian data ini memberi sinyal konsumsi AS masih cukup kuat.
Rupiah juga masih dibayangi sentimen eksternal setelah komentar Kevin Warsh dalam sidang konfirmasi Senat dinilai bernada sedikit hawkish. Ia menegaskan tidak membuat janji kepada Presiden Donald Trump soal pemangkasan suku bunga dan akan menjaga independensi The Fed dari Gedung Putih. Bersamaan dengan itu, data Penjualan Ritel AS yang kuat memperlihatkan ekonomi Amerika masih tahan banting, kondisi yang menjaga permintaan terhadap Dolar AS dan membatasi ruang penguatan Rupiah.
Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Apr 22, 2026 07.30
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 4.75%
Sebelumnya: 4.75%
Sumber: Bank Indonesia