Batu Bara ICE Newcastle Menuju Menutup Minggu dengan Naik Lebih dari 5%
- Batu Bara ICE Newcastle kembali masuk ke dalam kisaran sebelumnya.
- Keadaan Timur Tengah masih dominan dalam memengaruhi pergerakan harga komoditas.
- Penguatan USD serta harga batu bara yang tinggi dapat menguntungkan negara pengekspor batu bara seperti Indonesia.
Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari kemarin di 129,10 yang lebih tinggi 1,06% dari penutupan hari sebelumnya. Batu bara ini membuka hari Kamis dengan gap atas di 130,00 namun kesulitan untuk naik lebih jauh dan malah merayap turun hingga penutupan ke level yang disebutkan di atas. Meskipun merah, komoditas ini bersiap untuk menutup minggu dengan naik lebih dari 5% jika tetap berada di level-level saat ini.
Meskipun batu bara ini kesulitan meraih kembali tertinggi 2026, komoditas ini tetap di atas level-level pra-konflik Timur Tengah sekaligus mempertahankan tren naik jangka lebih Panjang saat berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 46,80 dan miring ke atas mengindikasikan momentum bearish melemah namun belum berubah menjadi bullish karena masih di bawah level netral 50.
Suhu di pelabuhan Newcatle Australia adalah 22°C pada saat berita ini ditulis. Cuara di kawasan ini berawan dan peluang hujan ringan. Namun demikian, keadaan tersebut diprakirakan tidak menganggu proses pemuatan batu bara di pelabuhan. Sehingga, cuaca tidak akan menjadi faktor yang memengaruhi harga komoditas ini secara signifikan dalam jangka pendek.
Gencatan senjata antara AS dengan Iran diperpanjang. Namun, perselisihan di antara keduanya tampak belum mereda karena AS masih memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran dengan Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan kepada Angkatan Laut AS untuk menembak setiap kapal yang memasang ranjau di Selat Hormuz.
Berlanjutnya ketidakpastian atas Selat Hormuz memperpanjang gangguan distribusi minyak dan gas dari Teluk. Sebelum perang, jalur tersebut dipakai untuk mengangkut 20% kebutuhan minyak dunia. Minyak West Texas Intermediate (WT) naik untuk tiga hari berturut-turut hingga $97,02 kemarin dan tampak berhenti sejenak untuk saat ini, menantikan kabar terbaru.
Harga minyak yang lebih tinggi diikuti oleh komoditas-komoditas lainnya seperti batu bara mengingat komoditas ini digunakan sebagai alternatif untuk pembangkit listrik saat pasokan gas terganggu. Namun perlu diingat bahwa negara-negara di dunia sedang beralih ke sumber-sumber energi yang lebih ramah lingkungan sehingga permintaan batu bara diprakirakan kembali menurun saat pasokan gas mulai normal.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $103,43 naik dari $99,87
- Batubara I (5.300 GAR) $77,71 naik dari $72,28
- Batubara II (4.100 GAR) $52,84 naik dari $49,99
- Batubara III (3.400 GAR) $38,30 naik dari $35,23
Dolar AS yang mencapai Rp17.000 untuk pertama kalinya pada bulan ini sekilas bisa menguntungkan bagi sektor batu bara karena berdasarkan data tahun lalu, Indonesia memasok 514 juta ton atau sekitar 43% perdagangan global.
Perinciannya adalah produksi batu bara nasional di tahun 2025 sebesar 790 juta ton, sehingga secara komposisi jumlah yang diekspor lebih besar dari kebutuhan dalam negeri. Jika komposisi, harga batu bara tinggi, dan Dolar AS menguat tetap berlaku, maka berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari komoditas ini.
Namun, itu bisa diimbangi oleh kekhawatiran inflasi yang bisa meredam daya beli masyarakat, sebuah kekhawatiran yang juga dirasakan negara-negara lainnya. Pemerintah Indonesia sendiri memutuskan untuk tidak menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sampai akhir tahun untuk menanggulangi kekhawatiran tersebut sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.