اب سے ہم Elev8 ہیں
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
Rupiah masih berada di bawah tekanan terhadap Dolar AS pada akhir sesi Asia Selasa. USD/IDR terpantau naik 72,5 poin atau 0,42% ke 17.244, mendekati batas atas rentang harian di 17.246. Sepanjang perdagangan, pasangan mata uang ini bergerak di kisaran 17.183-17.246, sementara rentang 52 minggu berada di 16.085-17.323.
Posisi tersebut menunjukkan Rupiah masih diperdagangkan dekat area terlemahnya, dengan pasar belum cukup berani membangun pemulihan yang lebih solid. Tekanan terutama datang dari kuatnya permintaan terhadap Dolar AS, disertai meningkatnya kekhawatiran bahwa pelemahan kurs mulai merambat ke harga barang, biaya produksi, dan logistik domestik.
Dari sisi eksternal, tekanan belum banyak mereda karena Indeks Dolar AS atau DXY masih tertahan di atas 98,55. Kondisi ini menjaga daya tarik Greenback dan membuat mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, sulit keluar dari tekanan dalam jangka pendek.
Survei Reuters menunjukkan ekspektasi pemangkasan suku bunga AS bergeser lebih lambat. Sebanyak 56 dari 103 ekonom memprakirakan suku bunga tetap di 3,5%-3,75% setidaknya hingga September. Proyeksi inflasi PCE juga direvisi naik menjadi 3,7% pada Kuartal II, 3,4% pada Kuartal III, dan 3,2% pada Kuartal IV. Meski 71 dari 103 ekonom masih melihat peluang setidaknya satu kali pemangkasan sebelum akhir tahun, narasi suku bunga tinggi lebih lama tetap memberi pijakan bagi Dolar AS.
Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR berada di Rp17.227 per Dolar AS pada Senin, 27 April, menguat dari Rp17.278 pada 24 April dan Rp17.308 pada 23 April. Penguatan ini memberi sedikit ruang napas bagi Rupiah, tetapi belum cukup untuk mengubah gambaran besar bahwa mata uang Garuda masih berada di area lemah secara historis.
Dengan USD/IDR spot masih bergerak dekat zona tertinggi tahunannya, pasar tampaknya tetap menunggu sinyal yang lebih kuat dari Dolar AS, arah harga minyak, dan respons kebijakan domestik sebelum menilai apakah pemulihan Rupiah dapat berlanjut.
Analis Mata Uang Senior MUFG, Lloyd Chan, menilai lonjakan USD/IDR ke sekitar 17.300 telah melampaui ekspektasi stabilisasi jangka pendek di area 17.000. Tekanan ini dinilainya lebih banyak berasal dari guncangan keyakinan domestik dan ketidakpastian fiskal, bukan semata penguatan luas Dolar AS, meski Rupiah kini tampak semakin undervalued dan USD/IDR mulai memasuki wilayah jenuh beli.
Dari sisi fiskal, perhatian pasar juga tertuju pada pernyataan Fitch. Pada Jumat lalu, lembaga pemeringkat tersebut menyatakan Indonesia tidak otomatis terkena downgrade jika defisit fiskal sementara menembus batas 3% PDB, selama pelebaran itu bersifat jangka pendek akibat dampak perang Iran dan pemerintah tetap menunjukkan komitmen pada konsolidasi fiskal.
Namun, Fitch juga memperingatkan bahwa risiko akan meningkat jika defisit melebar lebih lama, atau jika perang dijadikan alasan untuk mempertahankan belanja tinggi secara berkelanjutan. Bagi Rupiah, isu ini penting karena tekanan energi dan subsidi dapat memengaruhi persepsi investor terhadap disiplin fiskal Indonesia.
Dari sisi geopolitik, Rupiah masih dibayangi kebuntuan perang AS-Iran. Iran telah mengajukan proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, tetapi respons Washington masih dingin karena tawaran itu dinilai belum cukup menyentuh isu nuklir.
Selama jalur Hormuz belum pulih, harga minyak berisiko tetap tinggi dan memperbesar tekanan bagi Indonesia melalui inflasi impor, beban subsidi energi, serta kebutuhan Dolar AS untuk impor migas.
Al Jazeera juga melaporkan bahwa Sekjen PBB memperingatkan kebuntuan AS-Iran di Hormuz dapat memicu risiko darurat pangan global, karena jalur energi, pupuk, dan logistik ikut terganggu. Bagi Rupiah, risiko ini penting karena dampaknya tidak berhenti pada minyak, tetapi dapat merambat ke biaya pangan, pupuk, distribusi, dan harga barang konsumsi.
Di tengah kendala Hormuz yang masih berlarut-larut, rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia menegaskan upaya pemerintah mengamankan pasokan energi. Namun, langkah ini juga menjaga perhatian pasar pada kebutuhan valuta asing dari sisi impor migas, terutama ketika Rupiah sudah berada di area lemah.
Sementara itu, meski tidak berdampak langsung terhadap Rupiah, reshuffle kabinet turut menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo menunjuk Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Perubahan ini dapat memengaruhi persepsi terhadap arah kebijakan domestik, terutama terkait kepastian regulasi investasi dan agenda lingkungan di tengah kebutuhan menjaga kepercayaan investor.
Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.
Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.
Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.